Larasukma adalah font gambar karya Adien Gunarta, seorang perancang huruf asal Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Font Larasukma ini terdiri dari 52 karakter berupa bentuk-bentuk niskala yang tak jelas. Bentuk-bentuk tersebut dibuat sebagai ungkapan perasaan secara langsung dan naluriah. Larasukma diperoleh dari gabungan kata 'lara' dan 'sukma' yang dapat disamaartikan secara dangkal dengan 'sakit jiwa'. Font dingbat ini dapat diunduh cuma-cuma di http://www.fontspace.com/gunarta/larasukma


Larasukma Ungkapan Jiwa

Terbitan

Selasa, 01 Juli 2014

Banderol

Toer adalah sebuah font dingbat yang dirancang oleh Didik Pratikno, seorang perancang huruf, desainer grafis dan ilustrator asal Juwana, Jawa Tengah, Indonesia. Font Toer ini berisikan serangkaian potret Pramoedya Ananta Toer, pengarang kenamaan kelahiran Blora yang namanya telah disebut berkali-kali dalam anugerah Nobel sastra. Font Toer ini dapat diunduh di: http://www.fontspace.com/didik-pratikno/toer


Ialah Didik Pratikno, seorang perancang huruf asal Juwana, Jawa Tengah, yang telah merancang sebuah font dingbat bernama Munir. Sesuai dengan namanya, font Munir ini diabdikan untuk almarhum Munir yang notabene adalah salah seorang pejuang hak azasi manusia dan anti-korupsi paling masyhur di Indonesia. Font Munir ini mengandung kumpulan gambar dalam bentuk potret, poster dan tulisan yang menyuarakan keadilan untuk mendiang Munir. Font Munir ini dapat diperoleh secara cuma-cuma di http://www.fontspace.com/didik-pratikno/munir



Sekilas Tentang Munir.

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.

Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.

Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini. (diambil seluruhnya dari Wikipedia Bahasa Indonesia)