Hiasan Khas Minangkabau dalam Fontasi Lapiah Tigo

Ilham dalam merancang bentuk huruf bisa datang dari mana saja; bisa dari arsip desain masa lalu, pengembangan dari karya yang sudah ada, sesuatu yang baru dan eksperimental, atau bahkan budaya leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Tampaknya Mulya Hari V., seorang perancang huruf, mengambil inspirasi dengan cara yang terakhir tadi.


Pada fontasinya yang bertajuk Lapiah Tigo, Mulya menyarikan bentuk ornamen khas Minangkabau menjadi bentuk-bentuk huruf yang indah. Lapiah Tigo (bahasa Indonesia: Jalin Tiga) adalah salah satu jenis pola hiasan khas Minangkabau yang terbentuk dari tumbuhan rambat dan bunga-bunga. Sesuai dengan namanya, Lapiah Tigo tersusun dari tiga jalinan garis yang dikepang atau disusun menjadi satu.


 Fontasi ini merupakan bentuk apresiasi dan pelestarian terhadap salah satu warisan leluhur Minangkabau. Dengan dirancangnya fontasi baru ini, Mulya berharap dapat memperkenalkan kembali pola hias Lapiah Tigo kepada khalayak, khususnya pemuda dan pemudi Minangkabau sendiri. Fontasi Lapiah Tigo ini tentu saja telah memperkaya khazanah fontasi-fontasi bertemakan budaya Nusantara yang patut kita semua hargai.

Setelah diuji coba oleh kami, fontasi Lapiah Tigo agaknya memiliki sedikit kekurangan, yakni sebagai berikut:
  • fungsi ligatur pada /fi/ tidak bekerja dengan sempurna. 
  • ketinggian-x tidak sama pada beberapa karakter huruf kecil seperti pada huruf /b/, /d/, dan /g/
  • ukuran desain Lapiah Tigo atau Jalinan Tiga-nya tidak selaras pada beberapa karakter huruf kecil seperti pada huruf /o/, /j/, dan /l/. Barangkali untuk mempercepat pengolahan rancangan, perancang sengaja mengambil bentuk huruf yang sudah ada pada set karakter huruf besar untuk disusun ulang di rancangan huruf kecil.

Meskipun demikian, Lapiah Tigo, dengan lengkungan-lengkungannya yang begitu menawan, telah berhasil memperluas cakrawala penjelajahan bentuk huruf Latin yang terilhami dari khazanah budaya bangsa. Fontasi yang berizin gratis dan terbuka ini dapat diunduh secara cuma-cuma di http://www.dafont.com/lapiah-tigo-typeface.font 

Kamis, 16 Juli 2015 Leave a comment

Wajah Yahudi di Huruf Latin

Tak banyak (atau bahkan tiada) fontasi lir-Ibrani gratisan yang beredar di Internet. Fontasi lir-Ibrani sesungguhnya adalah fontasi alfabet Latin yang memiliki ciri khas perwajahan aksara Ibrani, aksara orang Yahudi.

Pada suatu sudut Internet, saya menemukan ilham yang cukup menarik untuk dijadikan fontasi. Saya menemukan sebuah sampul buklet yang dikeluarkan oleh Nazi sebagai propaganda anti-Yahudi di negeri Belanda. Dari desain sampul itu, tertulis 'DE JODEN' yang memiliki rancangan yang unik, yakni tampak seperti huruf Ibrani.

Dari sanalah, timbul gagasan cerlang untuk melengkapi setiap anggota alfabet Latin, yakni A-Z dan angka, lantas kemudian untuk dijadikan fontasi berjudul 'Kanisah'. Kanisah dalam KBBI bermakna sinagoga, tempat beribadatan umat Yahudi.

Fontasi ini dapat diunduh secara cuma-cuma di:
http://www.fontspace.com/gunarta/kanisah

Senin, 29 Juni 2015 Leave a comment

Gresikonik: Jelajah Ikon-Ikon Unik Kabupaten Gresik

Pagelaran pameran tugas akhir D3 Desain Grafis, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipadati ratusan pengunjung pada Kamis malam 28 Mei 2015 di Balai Pemuda. Acara yang bertajuk Paradesia itu mengusung tema New World Order. Puluhan karyatama dari pelajar-pelajar kreatif ditampilkan gratis untuk umum, ditambah dengan bumbu-bumbu musik yang asyik.

Salah satu karya yang cukup menonjol dari sekian itu adalah Gresikonik. Karyatama yang lahir dari daya cipta Muhammad Riza Asshiddiqy ini sangatlah istimewa sebab telah berhasil memadukan unsur tipografi yang kuat ke dalam sebuah peta (wisata) kabupaten Gresik.

Gresikonik berisikan 26 huruf besar aksara Latin yang didesain dengan gaya minimalis namun tetap pancarona. Huruf-huruf besar tersebut ditaburi di sekujur tubuhnya dengan gambaran yang mewakili tempat atau bangunan ikonik tertentu di kabupaten Gresik, seperti situs Giri Kedaton, pabrik semen, Stadion Tridarma dan lain sebagainya. Gambar-gambar tersebut tidak sendiri saja, melainkan juga dilengkapi dengan keterangan ringkas plus lokasinya dalam peta kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sebagai sebuah peta yang memperkenalkan kabupaten Gresik, karyatama ini telah berhasil menunjukkan proses daya cipta yang teramat cermat dan cemerlang kepada kita semua.


catatan:
gambar dinukil dari akun Instagram si desainer.

Jumat, 05 Juni 2015 Leave a comment

Javanese Script: Fontasi Skripta Bersambung ala Jawa

Sekali waktu malam Jumat juga bisa berlangsung meriah. Kemeriahan malam Jumat 28 Mei 2015 itu berlangsung di Balai Pemuda, Surabaya dan dipadati ratusan pengunjung. Di malam yang cerah itu, pelajar-pelajar tingkat akhir D3 Desain Grafis, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan pameran karya Paradesia yang mengusung tema New World Order.

Karyatama dari masing-masing pelajar itu sangatlah unik dan sebagian juga sangatlah istimewa. Salah satu karyatama yang istimewa datang dari tangan dingin nan perigel seorang M. Iqbal Najib. Ia menciptakan sebuah desain fontasi yang memiliki bentuk huruf skripta bersambung dengan sensasi Jawa yang cukup kuat. Sensasi Jawa dihadirkan melalui penyarian ciri khas bentuk aksara Jawa yang umumnya memiliki lipatan-lipatan. Rancangan tersebut dinamainya Javanese Script, sesuai dengan ilham pokok lahirnya rancangan tersebut, yakni aksara Jawa.



Leave a comment

Pamekasan

Pamekasan adalah sebuah fontasi nirkait karya Mukhlis Risani. Huruf-huruf nirkaitnya dirancang dengan gaya yang modern dan bersih, dibumbui dengan cita rasa bentuk yang lumayan eksperimental. Selain dilengkapi dengan tiga ragam fontasi lain, yakni ragam Bold, Italic dan Bold Italic, fontasi ini juga dilengkapi dengan huruf-huruf beraksen/diakritik sehingga bisa menuliskan sejumlah bahasa-bahasa Eropa atau pun bahasa daerah Nusantara. Fontasi yang namanya diambil dari salah satu kabupaten di pulau Madura ini dapat diunduh di Dafont.com dengan perizinan gratis untuk penggunaan pribadi.


Rabu, 03 Juni 2015 Leave a comment

Darmawisata Leter di Pulau Dewata

Dalam sebuah darmawisata singkat ke Bali, saya menemukan beberapa seni leter yang indah dan mancawarna. Kebanyakan semua papan tanda di jalanan, tempat persembahyangan, rumah makan atau toko-toko masih ditulis dengan tangan, diukir atau dibuat dengan cara yang lain. Sungguh sebuah selayang pandang yang menyegarkan untuk kita-kita yang sering berkecimpung dengan komputer dan lupa bahwasanya terdapat orang-orang yang ahli dalam mengayunkan kuasnya untuk menciptakan huruf yang indah.




Saya menghabiskan waktu terlalu singkat di pulau impian ini untuk mengobrol dengan warga setempat dan menanyakan ihwal leter yang saya jumpai: siapa si pembuatnya? Di mana? Sejak kapan? Siapa yang mengajarkan kaligrafi? Dan mengapa memilih perpaduan warna ini?

---

Aroma manis dan lembab dari buah nyiur, rempah-rempah, samudra dan mentari semerbakan di udara ketika kaki penuh debu bersandal japitmu terus melangkah sepanjang jalan. Lantas kemudian Anda menemukan papan tanda yang mencuri perhatian.




Tunggu dulu! Mengapa contoh-contoh di atas selalu memiliki bayangan timpa (drop shaddow) warna-warni? Maksudku, saya menyukainya namun bukankah leter-leter itu jadi memiliki sedikit cita rasa Hawaii? Barangkali akibat sinar matahari yang menyengat dan buah-buahan penuh warna yang sama-sama mereka berdua miliki.





Keseimbangan leter BEAUTY SALON tampaknya agak janggal, namun entah bagaimana juga sangat menawan. Leter dari sebuah toko kerajinan perak berikut ini tampak seperti dicetak, tetapi perbedaan pada kedua huruf ‘G’ menunjukan kebenaran yang sesungguhnya.



Papan tanda Ganesa seperti di atas menampilkan aksara Bali. Berikut juga beberapa penggunaan aksara Bali pada papan tanda lainnya:


Bentuk huruf yang agak lucu untuk sesuatu yang resmi seperti papan penunjuk jalan menuju ke tempat persembahyangan.



Sebagai kontrasnya, bentuk huruf yang sangat biasa berpadu dengan ilustrasi yang agak menakutkan pada bidang merah.


 Apabila Anda hendak kabur dari banteng ini, cobalah bersantai ria pada satu dari banyak hotel, penginapan dan spa sepanjang pantai yang elok rupawan. Saya sangat suka dengan ‘topi’ cantik yang selalu mereka pasang pada setiap papan tanda yang penting, yang mana mengingatkanku pada bangunan pura.


Terakhir, jikalau Anda ingin beristirahat, ikuti papan tanda ini:


Rupa-rupanya hal ini yang bakal Anda dapatkan.


Sumber:
http://pingmag.jp/2006/09/27/handmade-balinese-typography/
ditulis oleh Uleshka dan diterjemahkan oleh Adien Gunarta

Rabu, 27 Mei 2015 Leave a comment

Dunia Leter Masa Kini dan Hegemoni Bahasa Inggris

Keahlian Leter (lettering) dan kaligrafi belum pernah sesemarak ini di Indonesia. Leter dan Kaligrafi telah berhasil sintas di zaman yang sudah dianggap serbadigital ini. Kita dengan mudah menemui karya leter dan kaligrafi di mana-mana, mulai dari kafe gaul hingga di media sosial. Keperigelan kriya dalam menuliskan sekelompok huruf dengan indah telah mendapatkan hati masyarakat yang mulai jenuh dengan buatan-buatan mesin.

Di kalangan pengguna Instagram, dapat kita jumpai banyak akun perseorangan yang membagi-bagikan karya kaligrafi atau leternya kepada khalayak, dan sudah barang tentu mendapatkan tanggapan berupa sekadar ratusan ketuk dobel atau pujian yang selayaknya. Dari akun-akun perseorangan itu terdapat juga akun-akun kurasi yang menyeleksi dan mempublikasikan ulang karya perseorangan ke khalayak yang lebih luas, sebut saja salah satu yang paling masyhur yakni Kaligrafina dan BelmenID.


Salah satu karya yang dinukil dari akun Instagram BelmenID

 Akan tetapi, sangat patut disayangkan, dunia kaligrafi dan leter masa kini di Indonesia sudah identik dengan karya-karya berbahasa Inggris, seakan-akan huruf indah hanya layak untuk kutipan-kutipan indah yang berbahasa Inggris saja. Adakalanya memang, dari sekian banyak pelaku leter, terdapat sebagian orang yang menuliskan kata-katanya dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Pernah sekali waktu saya memberikan pertanyaan atas karya leter seseorang yang tidak diragukan keperigelannya, “Mengapa menggunakan bahasa Inggris?” Tak lama kemudian si pemilik akun menjawab dengan remeh-temeh, “Suka-suka.” Esoknya, bapak dosen Pengantar Kajian Media secara kebetulan menjelaskan sesuatu yang relevan, bahwasanya tidak bisa sesuatu hanya dijawab seperti ‘suka-suka’, mesti ada alasan sesungguhnya di balik sesuatu dilakukan (disadari maupun tidak). Hatta, komunitas penggemar kaligrafi dan leter di Indonesia sebetulnya tidak secara suka-suka menggunakan bahasa Inggris, melainkan alam bawah sadar mereka telah ‘terjajah’ sehingga melumrahkan bahasa Inggris di atas bahasanya sendiri.

Leave a comment

Menapak Tilas Huruf Logam Aksara Jawa

Tak banyak yang mengetahui ihwal sejarah tipografi aksara Jawa atau aksara-aksara daerah lainnya di Indonesia. Apabila Anda berkeliling mengunjungi pelbagai museum di sekujur Nusantara, belum tentu Anda akan mendapati mesin cetak atau teknologi huruf logam (metal type) aksara daerah di zaman prakemerdekaan atau Hindia Belanda. Asumsi dasarnya adalah pada saat Belanda kalah perang dan pulang ke negeri asalnya di Eropa, orang-orang Belanda pun membawa serta peralatan dan teknologinya, termasuk juga ke dalamnya adalah mesin cetak aksara daerah.

Beberapa waktu lalu, saya secara tak sengaja berkeliling di Behance dan mendapati karya fontasi Troy Leinster, seorang perancang huruf yang berbasis di New York, yang sungguh luar biasa menawan. Troy telah berhasil membangkitkan kembali desain huruf aksara Jawa yang telah lama mati suri dan terpendam di antara arsip-arsip di Lettergieterij Amsterdam, Belanda. Dari contoh huruf bertahun 1910 yang didapatinya dari sana, ia merekonstruksi desainnya secara cermat dan teliti menjadi fontasi modern yang dapat dinikmati secara digital di era ini. (untuk informasi yang lebih lengkap dan mendalam dapat dilihat di sini).


Dari ketertarikan saya dengan desainer luar negeri yang menaruh perhatian terhadap warisan leluhur bangsa Indonesia ini, saya menghubungi beliau dengan niat memuji dan mendapatkan cerita lebih lengkap mengenai karyanya. Dari sana, saya berbagi informasi mengenai aksara Jawa, mulai dari sebutan-sebutannya hingga ihwal riwayatnya.


Berkat jerih payah Troy berkeliling di negeri tulip demi menelusuri jejak aksara Jawa, saya pada akhirnya dapat melihat untuk pertama kalinya dalam hidup saya, bagaimana paras rupa huruf logam aksara Jawa pada masa lampau. Gambar di atas betul-betul membelalakkan mata kita akan keindahan dan keanggunan huruf logam aksara Jawa, yang meskipun begitu rumit namun tetap elok dipandang mata. Huruf logam ini digunakan untuk mencetak berbagai macam buku aksara Jawa pada zaman penjajahan, sebelum mesin-mesin cetak yang lebih mutakhir ditemukan.

Leave a comment

Larasukma Ungkapan Jiwa

Larasukma adalah font gambar karya Adien Gunarta, seorang perancang huruf asal Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Font Larasukma ini terdiri dari 52 karakter berupa bentuk-bentuk niskala yang tak jelas. Bentuk-bentuk tersebut dibuat sebagai ungkapan perasaan secara langsung dan naluriah. Larasukma diperoleh dari gabungan kata 'lara' dan 'sukma' yang dapat disamaartikan secara dangkal dengan 'sakit jiwa'. Font dingbat ini dapat diunduh cuma-cuma di http://www.fontspace.com/gunarta/larasukma


Selasa, 01 Juli 2014 1 Comment

Toer | Rangkaian Potret Pramoedya Ananta Toer

Toer adalah sebuah font dingbat yang dirancang oleh Didik Pratikno, seorang perancang huruf, desainer grafis dan ilustrator asal Juwana, Jawa Tengah, Indonesia. Font Toer ini berisikan serangkaian potret Pramoedya Ananta Toer, pengarang kenamaan kelahiran Blora yang namanya telah disebut berkali-kali dalam anugerah Nobel sastra. Font Toer ini dapat diunduh di: http://www.fontspace.com/didik-pratikno/toer


Leave a comment

Munir | Menolak Lupa

Didik Pratikno, seorang grafikawan asal Juwana, Pati, Jawa Tengah, telah merancang sebuah font dingbat bertajuk Munir. Sesuai dengan namanya, font Munir ini diabdikan untuk almarhum Munir, salah seorang pejuang hak azasi manusia dan anti-korupsi paling masyhur di Indonesia yang meninggal dunia sepuluh tahun silam secara tidak wajar.

Didik menuturkan bahwasannya sosok Munir adalah pemegang rahasia besar Republik Indonesia. “Kemarin ada di Semarang peringatan 10 Tahun Munir di Undip. Tapi belum bisa Hadir. Karna ada Karnaval Sedekah Desa,” ungkap pemerhati Sadulur Sikep (orang Samin) ini.

Font Munir mengandung kumpulan gambar dalam bentuk potret, poster dan tulisan yang menyuarakan keadilan untuk mendiang Munir. Gambar-gambar tersebut dikumpulkannya dari pelbagai sumber dan kemudian diolah melalui Adobe Illustrator dan Font Tools. Font yang  dirancang pada tahun 2012 ini dapat diperoleh di Dafont dan Fontspace secara cuma-cuma.

Pria 27 tahun ini berharap dengan adanya font Munir ini masyarakat yang membutuhkan poster tentang Munir dapat dengan mudah mendapatkannya. “Sebenarnya ingin mendokumentasikan portrait munir ke Font. Jadi kalau ada kawan yang mau membuat poster tentang munir tinggal ambil fontnya,” ungkap aktivis Jaringan Masyakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) ini.

Font Munir ini dapat diperoleh secara cuma-cuma di http://www.fontspace.com/didik-pratikno/munir



Sekilas Tentang Munir.

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.

Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.

Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini. (diambil seluruhnya dari Wikipedia Bahasa Indonesia)

Leave a comment

Javanese Hierogly: Aksara Jawa dalam Rupa Piksel

Javanese Hierogly boleh jadi merupakan font aksara Jawa pertama yang menerapkan gaya piksel dalam desainnya. Font ini tampak memuat bagian-bagian aksara Jawa dengan cukup lengkap, mulai dari huruf utama, tanda baca, huruf swara dan lain-lain. Walaupun belum menerapkan Unicode, dan sesungguhnya tidak pas bila disebut hieroglif, akan tetapi font ini sangat patut dihargai atas gagasannya yang sangat segar. Font karya Fokus Desain (?) ini diunggah di situs Fontspace.com dengan izin "freeware, commercial use requires donation." Tautan: www.fontspace.com/fokusdisain/javanesehierogly




Kamis, 26 Juni 2014 1 Comment

Bryana Aningsih Shara

Bryana Aningsih Shara adalah sebuah font skripta kaligrafis rancangan Situjuh Nazara, seorang perancang huruf yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Font yang dilengkapi dengan diakritik ini dapat digunakan secara gratis baik untuk kepentingan pribadi, lembaga laba maupun nirlaba. Font indah ini dapat diunduh di: http://www.dafont.com/bryana-aningsih-shara.font


Leave a comment

Alih Rupa & Alih Aksara Lambang-lambang Terkemuka

Pernahkan terbayang dalam benak Anda, aksara Nusantara mendapatkan tempat yang pantas di negerinya sendiri, selayaknya huruf hijaiah di jazirah Arab atau sirilik di negeri Rusia. Dari sekian kayanya khazanah aksara Nusantara, umpamakan aksara Jawa digunakan secara luas dan sah di bumi Jawadwipa. Pelbagai tulisan-tulisan di jalanan, perpustakaan, kantor hingga biro wisata, seluruhnya ditulis dalam aksara Jawa.

Sekiranya dari bayangan itulah Aditya Bayu, seorang perancang huruf yang menaruh minat besar pada aksara Nusantara, kembali berkiprah dalam pengembangan aksara Nusantara. Pada kesempatan kali ini ia menggubah dengan sangat cemerlang delapan lambang terkemuka ke dalam aksara Jawa. Mulai dari Coca-Cola, Teh Botol Sosro hingga Instagram pun berhasil ia alih rupa dan alih aksarakan ke dalam aksara Jawa.

Jika dibandingkan dengan aksara Latin yang telah berkembang ribuan tahun dan digunakan secara sangat luas di dunia, aksara Jawa adakalanya tertinggal dalam hal penerokaan tampilan desain. Para perancang barangkali memandang bahwa aksara Jawa memiliki bentuk yang sukar untuk diutak-atik atau sukar dikemas ke dalam bentuk yang lebih menarik. Namun Aditya Bayu membuktikan kebalikannya. Aksara Jawa telah berhasil bersolek sama eloknya sebagaimana aksara Latin tampil selama ini. Tautan: https://www.behance.net/gallery/17192555/Famous-Logos-in-Javanese-Script







Selasa, 24 Juni 2014 2 Comments

Sangkuriang, dari Penang ke Bangkok

Sangkuriang adalah salah satu sasakala Parahyangan yang termasyhur di Indonesia. Ditengarai terilhami dari sandiwara Yunani kuno ternama, Oidipus Sang Raja, yang memiliki gagasan cerita sejenis.

Dongeng Sangkuriang tadi dijelmakan menjadi sebandung font oleh Gregorius Wisnu Prastowo, seorang desainer asal Jakarta. Font Sangkuriang dirancang dengan memedomani gaya khas penulisan aksara Sunda. Font yang ditujukan Wisnu untuk tugas tingkat akhir perkuliahan ini, terdiri dari dua ragam, yakni ragam biasa dan ragam kursif. Ia kemudian membagikan Sangkuriang secara cuma-cuma di Dafont.com dan rentak menyebar di sejumlah situs lainnya.

Sekian tahun telah berlalu, pengguna font Sangkuriang kian beragam. Dari yang sekian itu, terdapat dua yang patut dicatat, yakni penggunaan font Sangkuriang oleh Dapur Penang dan King's Fisher.




Dapur Penang adalah restoran yang berpangkal di Surabaya, Jawa Timur. Restoran ini menyajikan santapan-santapan khas Malaysia, khususnya sebagaimana namanya, Penang, sebuah negara bagian di kerajaan Malaysia. Restoran ini dapat dijumpai di pusat perbelanjaan Grand City dan Tunjungan Plaza, Surabaya. Restoran ini telah menggunakan font Sangkuriang pada lambang, atau lebih tepatnya pada bagian semboyan, yaitu 'Simply Traditional'. Berdasarkan hal tersebut, terdapat cela di sini, mengingat Sangkuriang dirancang dengan berpedoman pada gaya tulisan aksara Sunda, namun digunakan untuk keperluan kebudayaan Melayu.



Sedangkan King's Fisher adalah perusahaan yang bergerak di bidang beragam ikan kaleng, yakni sarden, makerel, dan tuna. Berpangkal di kabupaten Jembrana, perusahaan PT. Bali Maya Permai mulai berjalan sejak 1978 dan berkembang hingga sekarang. Salah satu produknya adalah King's Fisher Sardines, dengan ragam rasa Sardines Bangkok Sauce. Ragam rasa ini diramu sedemikian rupa dengan citarasa Bangkok, Thailand. Rupa kemasan kaleng dirancang menggunakan font Sangkuriang untuk bagian kata 'bangkok sauce' dengan sedikit suntingan. Sama dengan persoalan Dapur Penang, terdapat cela dalam penggunaannya. Sebagaimana yang telah dituturkan tadi, font Sangkuriang dirancang dengan gaya tulisan aksara Sunda, namun dalam penerapannya digunakan untuk menggambarkan kebudayaan lain, yaitu Thailand.



Cela-cela seperti di atas dapat dimaklumi. Sebuah keniscayaan bahwa desainer huruf memiliki pandangan yang tak selalu sama dengan pengguna huruf. Sebuah desain huruf dapat ditafsirkan menjadi banyak gagasan, walaupun sang perancang sendiri tidak bermaksud demikian. Contoh persoalan font Sangkuriang ini adalah contoh yang istimewa dan mencerahkan kita. Bagaimana masyarakat Indonesia sendiri bahkan melakukan 'kekeliruan' dalam menafsirkan gaya Sunda menjadi gaya Melayu atau Thailand.

Di lain sisi, barangkali hal ini menerangkan kepada kita bahwasanya terdapat ikatan-ikatan rupa antara sesama Asia Tenggara. Bagaimana pun itu, dalam senarai Luc Devroye, menuliskan secara singkat bahwa font Sangkuriang adalah font skripta berkait, tidak dipahami sama sekali sebagai gaya Sunda, Melayu apalagi Thailand.

Senin, 16 Juni 2014 1 Comment

Kelindan Puisi dan Tipografi Pada Bantal Berasap

Pada Bantal Berasap adalah sebuah proyek eksperimental oleh Elena Ekarehendy yang berupa kesatuan tipografi dan puisi (typoetry). Elena berhasil menyajikan puisi-puisi Afrizal Malna dengan wajah tipografi yang sangat menakjubkan. Pembaca dapat menangkap dari arah berganda, yaitu puisi itu sendiri sebagai teks, dan bersama dengan tampilan grafisnya sebagai penegas.

Menoleh ke belakang, tipografi dan puisi pernah berjaya bersama-sama. Sebagian karya puisi ditampilkan dengan bentuk-bentuk tipografi yang tidak biasa. Dan kejayaan itu mungkin dapat terulang kembali pasca diterbitkannya proyek eksperimental ini. Dengan adanya proyek ini, semoga mengilhami penyair dan tipografer untuk menjalin ulang kerjasama yang pernah terputus di antaranya.

Tautan: http://www.behance.net/gallery/15490379/Pada-Bantal-Berasap-Typoetry

 

Selasa, 06 Mei 2014 Leave a comment

Wijaya & Mulawarman: Font Aksara Kawi & Palawa

Kawi adalah salah satu aksara kuno di Nusantara. Aksara ini diturunkan dari aksara Palawa yang luas penggunaannya di sepanjang Asia Selatan hingga Asia Tenggara.

Wijaya adalah font aksara Kawi, dan Mulawarman adalah font aksara Palawa. Keduanya diciptakan oleh Bayu Aditya. Silakan mengunjungi tautan berikut untuk lebih jelasnya:

http://alteaven.deviantart.com/art/Ancient-font-Wijaya-440291779

http://alteaven.deviantart.com/art/Ancient-font-Mulawarman-440276581




Leave a comment

Lontaraq

Lontaraq adalah font aksara Bugis atau acap kali disebut aksara Lontara. Lontaraq adalah salah satu font dari serangkaian font aksara Nusantara ciptaan Aditya Bayu yang dapat ditilik melalui DeviantArt-nya di alteaven.deviantart.com


Leave a comment

Pustaha: Font Batak Gaya Sans-Serif


Font Pustaha adalah salah satu dari sederet karya-karya Aditya Bayu yang mengangkat aksara Nusantara. Namanya diambil dari sejenis 'pustaka' khas Batak yang umumnya berisikan panduan ilmu meramal, obat-obatan, dan hal gaib yang digunakan oleh Datu (pendeta).

Lebih lanjut bisa mengunjungi: http://alteaven.deviantart.com/art/Batak-font-Pustaha-436366701


Leave a comment

« Posting Lama